Lifestyle » Family » Cermat Pilah-pilih Tontonan si Kecil
Cermat Pilah-pilih Tontonan si Kecil
Minggu, 7 November 2010 - 09:05 wib
(Foto: gettyimages)
COBA tebak, hiburan apa yang mudah dijangkau di rumah? Apalagi kalau bukan si kotak ajaib alias televisi.
Yup, anak-anak pun kerap takjub atau ikut bergoyang melihat tayangan pariwara di televisi. Lalu sejauh mana ‘rambu-rambu’ yang perlu Moms tetapkan di rumah guna menikmati tayangan televisi?
Aturan Menonton Televisi Buat si Kecil:
- Boleh menonton setelah belajar atau mengerjakan semua PR.
- Dua jam sehari untuk si kecil. Mengapa? American Academy of Pediatrics merekomendasikan bahwa anak-anak tidak boleh menonton lebih dari satu sampai dua jam televisi per hari, dan anak-anak < 2 tahun tidak boleh menonton televisi sama sekali.
- Batasan jelas tentang tayangan dan jam berapa saja si kecil boleh menonton televisi. Untuk acara yang paling digemarinya serta aman, Moms boleh memberikan waktu lebih untuk si kecil. Hal ini adalah bentuk penghargaan serta menjaga keseimbangan kebutuhan mereka.
- Disiplin dan pengawasan mutlak diperlukan. It’s ok untuk cerewet jika mereka melanggarnya. Toh hal ini demi kebaikan bukan?
Pertimbangan Orangtua:
- Arahkan pada tontonan yang baik dan mendidik dengan penjelasan dari Moms kepada si kecil.
- Tetapkan seperti apa, kapan dan berapa banyak tayangan televisi untuk si kecil. Selalu konsisten dengan aturan yang Moms buat! Bila perlu lihat panduan daftar acara televisi di majalah. Tandai dan tempel untuk jadwal si kecil.
- Jauhkan dari tayangan yang banyak menampilkan kekerasan. Bayangkan, jika si kecil melihat adegan kekerasan 5 kali dalam sehari, kalikan selama 365 hari (satu tahun). Hasilnya 1.825 kali adegan kekerasan yang ia ingat. Walau tidak berdampak langsung pada si kecil, namun akan tertanam pada mereka hingga beranjak remaja, dewasa dan tua.
- Perhatikan apakah si kecil sering menyerang anak seusianya setelah menonton televisi? Jika ya, maka Moms harus mengarahkannya serta memberikan perhatian yang lebih. Terangkan bahwa yang ia tiru tidak patut dilakukan.
- Tetapkan juga waktu bermain di luar rumah atau nonton televisi sekaligus waktu bermain games di komputer.
- Jika si kecil tak sengaja melihat adegan kekerasan di televisi atau film, jelaskan kepadanya peran jagoan atau superhero tidaklah sama dengan dunia nyata. Sehingga jelas mana dunia film (khayalan) dan mana dunia nyata.
- Lakukan kegiatan lainnya bersama si kecil untuk mengurangi intensitas menonton televisi, misalnya mengajaknya jalan-jalan ke museum, menanam bunga, bersepeda bersama.
- Perhatikan juga jenis bahasa. Jika ada bahasa yang kurang sopan atau kurang cocok untuk si kecil, sebaiknya Moms memberi informasi bahwa bahasa tersebut tidak cocok dan tidak baik untuk ditiru.
- Jangan menggunakan televisi sebagai electronic baby sitter untuk menjaga si kecil agar tenang dan tidak rewel.
- Jangan bosan untuk selalu menerangkan atau berdiskusi terhadap apa yang mereka lihat di televisi. Dengan begitu si kecil mengerti seluruh isi cerita.
- Dengar pendapat anak-anak (khususnya yang cukup besar usianya), tontonan apa yang mereka inginkan. Moms jangan hanya melarang, namun ajaklah berdiskusi. Hal ini membantu mereka menjadi pemirsa yang lebih cerdas.
STOP! Si Kecil Dilarang Melihat Adegan:
- Adegan seksual seperti ciuman dan bermesraan.
- Adegan kekerasan seperti tembakan, tamparan pipi, jeritan dan teriakan, darah berlebihan akibat kekerasan, gebuk dan tendangan serta adegan pembunuhan.
- Adegan ‘saru’ seperti adegan syur dalam video musik atau tayangan lainnya yang berbau SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan) atau menyudutkan.
Kriteria Tontonan Aman:
- Jika dalam tayangan atau tontonan ada sebuah pesan moral atau pesan positif yang mudah dimengerti oleh si kecil. Misalnya adegan anak yang sombong atau serakah itu tidak baik, maka si kecil boleh meniru menjadi anak yang baik.
- Unsur imajinasi tak boleh dikesampingkan. Terangkan kepadanya bahwa itu hanya fiksi dan bersifat khayalan belaka. Namun, jika dapat melakukan banyak hal yang baik untuk sesama teman dan juga hormat kepada orangtua sangatlah baik.
- No violence! Walau lebih mudah mencari film horor atau kekerasan, sebaiknya pilih film atau tayangan yang tanpa kekerasan namun tetap menghibur.(Mom& Kiddie//ftr)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar